Yogyakarta – “Jayakan Indonesia 2045!”. Tema sekaligus slogan ini saban hari makin ramai diucapkan dan digunakan dalam banyak agenda KAMMI. Dari Dauroh Marhalah tingkat I sampai tingkat III, dari diskusi warung kopi sampai Seminar Nasional, dari tingkatan komisariat hingga pusat, semua berbondong-bondong membumikan slogan tersebut.

Terang saja, dalam Platform Perjuangan KAMMI, “Jayakan Indonesia 2045” adalah tekad yang sedang dibangun secara kolektif oleh KAMMI sebagai gerakan. Ini adalah cita-cita yang konkrit sekaligus upaya pengkonsolidasian kader dalam agenda perjuangan KAMMI untuk Indonesia. Bagi saya, Agenda Kebangsaan “Jayakan Indonesia 2045” adalah upaya membangun optimisme yang baru bagi anak muda Indonesia khususnya kader KAMMI sendiri. Ini sekaligus cara untuk menghantam penyakit pesimisme yang telah lama melanda banyak anak bangsa akhir-akhir ini, menyerah dengan keadaan politik yang dipikirnya akan selalu tercitra buruk, takut bermimpi bahwa suatu saat Indonesia akan makmur, dan menghilangkan anggapan bahwa cita-cita kemerdekaan hanyalah mimpi.

Dalam Platform Perjuangan KAMMI : Jayakan Indonesia 2045, setidaknya ada delapan agenda kebangsaan KAMMI yang merupakan kumpulan cita-cita dan kehendak yang akan KAMMI wujudkan pada tahun 2045 mendatang, yaitu:
Terwujudnya persatuan Indonesia seutuhnya.

1. Kedaulatan penuh Indonesia.
2. Kehidupan seluruh rakyat Indonesia yang aman dan sejahtera.
3. Tegaknya hukum yang adil dan melindungi kehormatan rakyat Indonesia.
4. Kehidupan kebangsaan yang bebas.
5. Tidak adanya kebodohan dan keterbelakangan.
6. Peran superior Indonesia dalam mewujudkan ketertiban dunia.
7. Terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Tugas mulia ini diharapkan oleh KAMMI terwujud pada bentangan usia Indonesia yang ke-100 Tahun, tepatnya pada tahun 2045. KAMMI dan anggota-anggotanya (baik anggota aktif maupun alumni) yang berada pada posisi apapun, akan berkarya, berdiaspora dan melakukan mobilitas vertikal untuk menjadi penggerak-penggerak demi mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.

Secara keseluruhan Platform ini memang menjadi bentuk definitif dari cita-cita kebangsaan KAMMI. Namun bagi saya, dokumen ini masih terlampau normatif untuk dipahami oleh seluruh kader. Platform ini belum cukup implementatif bahkan untuk tingkatan KAMMI Daerah. Jika untuk sampai pada tahap “memahami” saja masih normatif, maka kita tentu sudah dapat menebak bagaimana kader dalam menginternalisasikan pada dirinya apalagi mengimplementasikannya sampai menjelaskannya pada “orang” lain. Sehingga akhirnya, terma “Jayakan Indonesia 2045” sampai saat ini masih terus menjadi slogan dengan dengungan yang kencang di internal KAMMI sendiri. Ada yang mengucapkan slogan ini karena paham dengan narasinya, ada juga yang mengucapkannya sebagai ajang keren-kerenan karena slogan ini santer populis di kalangan KAMMI.

Saya melihat kader KAMMI akan kesulitan untuk mengintegrasikan dirinya dalam cita-cita kebangsaan KAMMI ini jika kita tidak segera membuat “dokumen taktis” dari Platform tersebut. Ini agar KAMMI dengan seluruh elemennya (dari tingkatan pusat sampai komisariat, termasuk alumni) dapat terintegrasi dan mengintegrasikan kader di masing-masing strukturalnya. Sehingga jelas apa yang harus di lakukan kader pada tingkatan masing-masing demi mendorong terwujudnya Indonesia Emas 2045.

Jika kedelapan cita-cita kebangsaan tersebut diatas harus terwujud ketika Indonesia berusia 100 Tahun (pada tahun 2045), maka proses untuk mencapai cita-cita tersebut mau tidak mau harus dimulai dari sekarang juga. Dokumen Taktis (entah nanti akan diberi nama apa) ini bertujuan untuk mensinergikan arah dan gerak KAMMI demi mencapai cita-cita kebangsaannya. Agar dari seluruh tingkatan struktural di KAMMI menjauhi agenda yang tidak mendorong terwujudnya cita-cita tersebut.
Karena Platform Perjuangan KAMMI ini hanya berisi cita-cita kebangsaan KAMMI, maka Platform tersebut tidak akan terwujud jika KAMMI tidak membuat cara bagaimana agar sampai pada cita-cita tersebut. KAMMI harus segera membuat patokan capaian bahkan tahun per tahun hingga 2045, agar narasi “Jayakan Indonesia 2045” menjadi konkrit dan tidak kosong. Sehingga kita dapat mengetahui sudah sejauh mana proses pencapaian kita dalam menjayakan Indonesia 2045. Ini agar kader KAMMI secara keseluruhan dapat terbawa dalam pusaran arus pergerakan dan menjadi alat pemersatu dalam perwujudan cita-cita kebangsaan, bukan hanya untuk segelintir orang di KAMMI.

Saya berfikir misalnya, berdasarkan Tahapan Pertama dari Platform tersebut, KAMMI akan melakukan Rekrutmen yang dibagi menjadi dua yaitu mengenai jumlah dan pemerataan, Tahapan Kedua setelah Rekrutmen adalah Internalisasi dalam bentuk Ideologisasi dan profesionalisasi, nah Dokumen Taktis ini hadir untuk men-translate tahapan tersebut menjadi rencana strategis dan terintegrasi diseluruh elemen yang ada di KAMMI, yang misalnya adalah memastikan kader di Daerah hingga seluruh Komisariat memenuhi Indeks Jati Diri Kader pada masing-masing jenjang, untuk memenuhi IJDK tersebut dibutuhkan minimal yang namanya Manhaj Tugas Baca, nah tugas KAMMI sebagai pergerakan yang menjadi satu-kesatuan adalah memastikan agar Daerah dan Komisariat di seluruh Indonesia memiliki buku-buku ManTuBa tersebut. Ini untuk memastikan Daerah dan Komisariat yang sulit mengakses buku-buku ManTuBa tersebut terbantu dengan adanya upaya “pemerataan” ideologi di dalam KAMMI. Maka dalam rentan waktu satu tahun atau pada tahun sekian, pendistribusian ManTuBa ke seluruh Daerah dan Komisariat harus telah selesai. Ini demi mewujudkan tahapan pertama dan kedua saja, jika ini telah selesai dan telah berjalan dengan semestinya, baru kita akan menyentuh tahapan ketiga dan seterusnya.

Ini tidak lain agar roda dan arus pergerakan KAMMI berjalan secara kolektif dan masif serta terstruktur dan terukur. Maka di momentum Muktamar X ini kita mesti mengevaluasi bersama Platform Perjuangan KAMMI ini dan memikirkan langkah konkrit terwujudnya perjuangan cita-cita kebangsaan KAMMI. Bukan malah melakukan hal yang elementer semacam deklarasi sana-sini mendukung mas kae untuk PP1 hanya demi seru-seruan. Ini Muktamar bos, bukan Muskom. Wallahu a’lam bish-shawab.

(Abdul Rais Kaharuddin)

Pin It on Pinterest