Jakarta – Setahun yang lalu, di bulan oktober PW DIY mengadakan dauroh marhala 3 (DM3). Tak tanggung-tanggung tema yang diusung adalah “Transformasi Gerakan KAMMI”. Kebetulan saat itu saya adalah salah satu pesertanya. Tema tersebut dimunculkan bukan tanpa alasan yang kuat. Bukan juga sebuah langkah parsial yang sangat sporadis dalam sebuah dauroh. Karena biasanya, tema dauroh akan berdampak kepada tema penulisan makalah yang menjadi salah satu syarat yang harus dipenuhi peserta. Jadi tidak ada alasan untuk “bermain-main” dalam mencipta tema.

Mengenai transformasi sebuah gerakan, sebenarnya dibangun atas dasar keresahan posisi dan eksistensi. Saat itu tercium aroma inisiatif untuk merombak model gerakan agar memiliki nafas yang lebih panjang. Tampaknya keresahan posisi ini, khususnya posisi gerakan mahasiswa di hadapan rakyat bukan hanya dialami oleh KAMMI. Hampir semua organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan mengalami hal yang serupa. Namun terkadang, ada yang malu untuk mengakui dan yang lain luput dari radar pembicaraannya.

Kemajuan teknologi nyatanya berdampak pada pereduksian peran KAMMI di hadapan rakyat. Contoh sederhana misalnya, ketika aplikasi petisi online dapat menyalip laju dari salah bidang kepengurursan di KAMMI, yakni Kebijakan Publik (KP). Terjadi kemacetan pada fungsi gerakan kita sebagai watch dog (anjing penjaga) kebijakan pemerintah. Orang tak perlu lagi repot-repot turun ke jalan untuk menentang kebijakan. Mereka cukup melakukan petisi online beramai-beramai di change.org dkk.

Salah satu kasus yang terbukti adalah ketika adanya pelarangan transportasi online yang kemudian direvisi oleh pemerintah. Karena saat itu masyarakat melakukan petisi online untuk menolak kebijakan itu. Bayangkan saja, bagaimana waktu berhari-berhari yang digarap oleh KP untuk menyiapkan aksi, kemudian digunting sebegitu cepat oleh aplikasi petisi online.

Yang kedua, peran KAMMI dalam aksi sosial kemasyarakatan. Kita pasti sering melakukan aksi pengumpulan dana untuk kemanusiaan. Seperti, bencana alam, konflik palestina, genosida rohingya dan lainnya. Aksi pengumpulan dana untuk membantu sesama ini, ternyata sekarang sudah dapat disederhanakan dengan kitabisa(dot).com dan kawanannya. Tak perlu lagi membutuhkan tenaga yang banyak untuk mengumpulkan dana. Cukup satu atau dua orang saja yang menanggungjawabi maka melalui situs kitabisa(dot)com dana ratusan juta bisa terkumpul dalam sekejap. Dengan adanya fakta demikian, jelas bahwa fungsi gerakan kita sebagai sosial independen akan tergerus secara perlahan-lahan. Aksi-aksi yang biasa kita garap, sekarang ini dengan mudah dapat disederhankan oleh teknologi. Rakyat semakin tidak membutuhkan kehadiran gerakan mahasiswa yang punya bangunan formal yang terstruktur.

Yang ketiga, peran KAMMI sebagai dakwah ketauhidan. Syiar keislaman yang sejatinya menjadi amanat paradigma KAMMI beberapa tahun terkahir juga tidak begitu maksimal dampaknya. Justru dakwah ketauhidan dan syiar keislaman banyak digarap oleh komunitas-komunitas kehobian yang tidak begitu mengikat dan sangat cair. Seperti misalnya gerakan One Day One Juz (ODOJ), Gerakan Subuh Berjamaah, Sedekah Rombongan hingga perjuangan melawan kapitalisme yang digalakkan oleh Komunitas Tanpa Riba. Ini sesuatu yang menyedihkan bagi gerakan, bagaimana mungkin kampanye anti kapitalisme itu justru digerakkan oleh Komunitas yang power sumberdayanya jauh lebih terbatas dibandingkan dengan gerakan mahasiswa.

Merebaknya komunitas-komunitas di tingkat nasional dan lokal ini bukanlah tanpa sebab. Ini ada hubungannya dengan semangat zaman dan “kids zaman now”. Sekarang ini orang lebih menyukai wadah kesamaan visi yang lebih cair daripada wadah yang sangat struktaralis dan mengikat. Namun ini perlu pengkajian lebih mendalam.

Semangat KAMMI di 98

Semangat pendirian KAMMI di tahun 1998 adalah semangat oposisi, yaitu oposisi terhadap orde baru yang ditenggeri oleh Suharto. Namun yang menjadi persoalan bagi gerakan kita sekarang, semangat oposisi itu masih terus dipertahankan. Paradigma “ekstra Parlementer” adalah warisan orde baru yang masih dipertahankan hingga sekarang. Padahal sejatinya orde baru yang menjadi musuh bersama itu sudah tumbang puluhan tahun yang lalu. Jika eksistensi KAMMI di hadapan rakyat masih diukur dengan keberhasilan turun ke jalan, saya kira kita masih jalan di tempat. Dan faktanya, selama lima tahun terakhir sangat jarang atau bahkan tidak ada aksi jalanan yang kita inisiasi punya daya pukulyang kuat. Kebijakan pemerintah tetap terlaksana, aksi gerakan putus di tengah jalan. Mulai dari kenaikan BBM, tarif listrik, rapor merah dan lain-lain. Bahkan ada gojekan bahwa pada waktu-waktu tertentu, aksi jalanan justru dijadikan proyek mengisi kantong oleh beberapa orang.

Jika menelisik lebih jauh seputar aksi jalanan, ada dua sumber kekuatan yang membuat aksi jalanan bisa solid, massif dan terstruktur dengan baik. Pertama adalah karisma leader. Ketokohan pemimpin aksi sangat dibutuhkan untuk menguatkan dan mengeratkan massa. Sebagaimana zaman kolonialisme orang butuh sosok Tjokro Aminoto dan Soekarno untuk mengikat massa dalam satu simpul yang sama. Dengan karisma, dua orang ini menjadi ratu lebah yang dikelilingi oleh banyak orang. Ini berdampak pada kesolidan massa.
Tapi itu sudah lama berlalu. Zaman sudah berubah. Tjokro dan Soekarno hidup di zaman kolonialisme yang begitu membodohkan. Tingkat buta huruf rakyat Indonesia saat itu masih sangat tinggi. Selain itu sharing pengetahuan dan informasi sangat lambat. Hanya orang-orang tertentu dari kalangan kelas menengah seperti Tjokro dan Soekarno saja yang mendapatkannya. Hingga pada akhirnya orang yang punya ilmu lebih, gagasan lebih akan selalu digemari dan dinant-nanti. Beda cerita dengan zaman sekarang.

Di zaman demokrasi yang semakin menguat ini, atau sebagian orang menyebutnya zaman Post-Modernis sharing pengetahuan sangat tinggi dan penyebaran arus informasi sangat cepat. Ini menyebabkan gagasan dan sudut pandang akan menjadi kaya. Tidak ada pandangan maupun gagasan yang tunggal. Semua punya persefektif masing-masing dalam sebuah kasus. Kemudian pada akhirnya yang terjadi adalah pemaafan bahwa kebenaran tergantung dari sudut pandang mana.

Ketika ada leader aksi jalanan berargumen A, boleh jadi calon peserta aksi massa berargumen B. Karena informasi dan ilmu yang didapat oleh kedua nya berbeda. Hingga kemudian karisma pada sang leader melemah di mata peserta aksi massa. Dan sang leader tidak mampu menarik kekuatan-kekuat di luarnya untuk ikut dalam aksi.

Kedua, adalah kooptasi dan monopoli wacana. Aksi massa yang kuat dan solid juga bisa dibangun dengan mengkooptasi dan memonopoli wacana. Inilah yang terjadi pada aksi 212 dan 411. Dalam aksi tersebut yang menjadi pengikat aksi massa bukan leader, tapi wacana. Bagaimana wacana “penistaan agama” bisa menyatukan beberapa golongan yang berbeda. Bahkan sanggup menarik kelompok di luar untuk ikut bergabung ke dalamnya.

Maka dengan mengkooptasi wacana yang tepat serta memonopolinya menjadi milik KAMMI, aksi jalanan akan punya bergaining position. Ketika orang lain ingin membicarakan wacana yang telah kita garap maka mereka tidak akan bisa lepas dari kita. Mau tidak mau mereka akan masuk dan terikat dalam gerakan yang kita bangun. Jika pada “karisma leader” yang menjadi pengikat adalah tokoh, maka dalam “kooptasi dan monopli wacana” yang menjadi pengikat adalah wacana. Dan yang akan menajdi aktor kunci pergerakannya adalah orang yang telah lebih dulu mengkooptasi dan memonopoli wacana tersebut.
Tapi memainkan “kooptasi dan monopoli wacana” ini harus penuh ke hati-hatian. Karena apabila wacana tidak menarik dan tidak sukses untuk mengajak orang lain bergabung, maka akan berdampak pada kekebalan pemerintah. Jika dosis aksi jalanan yang kita buat ternyata mampu untuk diantisipasi oleh pemerintah maka akan berlaku hukum kebal. Dengan demikian dosis yang sama pada aksi-aksi selanjutnya tidak akan punya daya gebrak dan kita perlu dosis yang jauh lebih tinggi.

Bersambung…

Pin It on Pinterest