Jakarta – Kekerasan yang menewaskan ratusan orang kembali terjadi sejak Sabtu (26/8) terhadap etnis Rohingya di Rakhine, Myanmar. Kekerasan tersebut dilakukan oleh Militer Myanmar dengan dalih menumpas kelompok militan Rohingya.

Selain menewaskan ratusan orang, kekerasan tersebut membuat ribuan orang Rohingya melarikan diri ke perbatasan Bangladesh. Ketika ribuan etnis Rohingya berusaha menyelamatkan diri ke Bangladesh, Negara itu justru memblokade akses masuk bagi mereka yang hendak mengungsi.

Kartika Nur Rakhman, Ketua Umum Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PP KAMMI) mengecam kekerasan tersebut dan menyayangkan kekerasan tersebut terus berulang dari waktu ke waktu.

“Akar masalah dari kekerasan yang terus berulang ini adalah etnis Rohingya yang tak memiliki kewarganegaraan, status mereka yang stateless ini membuat Pemerintah Myanmar merasa tak takut memarginalkan mereka dan memperlakukan mereka seperti bukan manusia” ujar Kartika Nur Rakhman pada Rabu (30/8).

Maka terkait persoalan status warga Negara bagi etnis Rohingya ini, Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri PP KAMMI Adhe Nuansa Wibisono menyatakan perlu ada inisiatif dan ketegasan Negara-Negara tetangga terlebih ASEAN.

“Selama ini solidaritas Negara-negara ASEAN terhadap etnis Rohingya yakni Indonesia dan Malaysia hanya sebatas retorika lalu melimpahkan kembali ke Pemerintah Myanmar, padahal Pemerintah Myanmar adalah akar masalahnya” ujar Wibisono.

“Maka disini KAMMI mendesak Negara-negara ASEAN untuk melakukan peninjauan kembali prinsip non-intevention dari ASEAN dan kompak untuk menekan Pemerintah Myanmar dan menampung pengungsi Rohingya, krisis ini tak akan berakhir jika ASEAN tidak berani tegas”, tegas Wibisono.

Pin It on Pinterest