Batam – Pada dasarnya KAMMI sebagai sebuah gerakan memiliki perhatian yang luar biasa besar terhadap budaya literasi. Budaya baca-tulis di internal organisasi KAMMI memiliki posisi yang sangat penting dalam menunjang sikap kritis terhadap realitas sosial dan kebijakan pemerintah. Kita dapat melihat ini dari bagaimana kader KAMMI dituntut dan ditekan oleh sistem pengkaderan untuk memiliki kompetensi literasi tersebut. Penekanan pada pentingnya budaya baca-tulis ini bahkan sudah diterapkan pada gerbang pertama pengkaderan KAMMI. Setiap calon kader, harus membaca bacaan yang diwajibkan dalam Dauroh Marhalah 1 (Latihan Tingkat I). Pada jenjang Anggota Biasa 1 (Setelah dinyatakan lulus Dauroh Marhalah 1), kader harus memenuhi kriteria spiritual-emosional dan intelektual yang terumuskan dalam Indeks Jati Diri Kader (IJDK). Salah satu indeks dalam IJDK tersebut adalah selesai membaca buku dalam jumlah tertentu. Selanjutnya begitu terus sampai ke jenjang Anggota Biasa 2 dan 3. Kelanjutannya adalah, keharusan untuk mampu menyampaikan gagasan sebagai lanjutan dari kegiatan membaca tersebut. Sampai saat ini, sangat banyak buku-buku atau karya ilmiah yang sudah ditulis kader KAMMI dan alumninya. Kita dapat memaknai banyaknya hasil karya ini sebagai dampak positif pondasi literasi yang dibangun dalam pengkaderan KAMMI.

Sejak berdiri hingga saat ini sudah banyak buku atau karya ilmiah berupa skripsi dan tesis yang membahas KAMMI secara khusus atau aktivisme dan gerakan secara umum yang ditulis oleh kader-kader KAMMI. Buku dan karya tulis tersebut beberapa bahkan masih dibaca hingga kini oleh masyarakat luas, dan menjadi bacaan wajib kader KAMMI. Sebutlah Ijtihad Membangun Basis Gerakan, KAMMI dan Pergulatan Reformasi, Menciptakan Momentum, Muslim Negarawan, dan sedereten karya lainnya yang berhasil ditelurkan oleh kader-kader angkatan awal dan pertengahan. Pada periode yang lebih baru, kader-kader muda juga tak kalah gesit menuangkan isi pikirannya dalam bentuk buku dan karya tulis lain. Politik Ekstra Parlementer, Menjaga Nafas Gerakan, Mencintai KAMMI dengan Kritik dan Jalan Buntu Independensi KAMMI adalah beberapa judul buku yang ditulis pada periode paling anyar perjalanan KAMMI di Indonesia. Belum lagi jika menghitung karya kader-kader KAMMI di daerah yang belum/tidak terekspos dengan baik. Memang, konsekuensi sebagai sebuah gerakan membuat tulisan-tulisan kader KAMMI cendrung berada pada spektrum pergerakan-sosial politik. Baru akhir-akhir ini muncul karya-karya yang merambah genre lain seperti novel dan bacaan-bacaan selain tema-tema pergerakan-sosial politik.

Budaya baca dan kemampuan menulis, adalah kompetensi yang sangat vital, apalagi dalam aktivisme dan gerakan. Hal ini menjadi pondasi teoretis yang akan menopang praksis gerakan. Semakin baik pondasi ini maka akan semakin baik pula pembacaan terhadap realitas dan kematangan dalam menentuan langkah yang akan diambil. Pada akhirnya hal tersebut berpengaruh pada hasil atau capaian-capaian yang dihasilkan oleh gerakan.

KAMMI sebagai organisasi yang dalam perjalanannya banyak meminjam atau mengadopsi bacaan-bacaan wajib dari Ikhwanul Muslimin (IM) pada akhirnya “terwarnai” dengan corak IM. IM dengan ide Islam Moderat-nya membangun gerakannya dengan pondasi literasi yang kuat, sesuatu yang akhirnya juga dapat dilihat dalam tubuh KAMMI. Sehingga, imej sebagai gerakan intelektual melekat pada IM (selain juga imej radikal) kemudian juga pada KAMMI. Dengan tulisan-tulisan dan buku-buku yang dihasilkan itulah, Islam sebagai sebuah ideologi dan solusi-solusi “Islami” coba diwujudkan dan ditawarkan dalam konteks bernegara oleh KAMMI.

Seiring berjalannya waktu dan akses terhadap berbagai macam bacaan yang semakin terbuka lebar, dinamika yang terjadi di internal KAMMI terkait bacaan dan tulisanpun mengalami naik turunnya sendiri. Disamping massifnya gerakan penulisan dan penerbitan yang digagas oleh kader-kader KAMMI di berbagai daerah, muncul kecendrungan yang mulai tampak berupa keterbukaan terhadap berbagai gendre bacaan. Kecendrungan ini datang dengan semakin besarnya minat dan kebutuhan untuk memperluas khazanah bacaan mulai dari novel cinta mendayu-dayu, pemikiran kritis hingga kiri-progressif.

*Tentang bacaan “kiri”*
Bacaan “kiri”, sebagai bacaan yang selama Orde Baru dan beberapa lama pasca Orde Baru menjadi bacaan haram dan keberadaannya sangat sulit didapatkan mulai mendapat tempat hari ini. Kader-kader KAMMI juga termasuk kelompok masyarakat yang menikmati berkah itu. Bacaan kiri yang diasumsikan menjadi oposisi dari Islam yang merepresentasikan golongan kanan sangat mudah didapatkan dan dibaca berbagai kalangan. Dalam konteks KAMMI, salah satu yang paling menonjol dari persilangan antara bacaan Islam dengan bacaan kiri ini mungkin dapat diwakili oleh fenomena munculnya KAMMI Kultural. Terlepas dari pro dan kontra yang mewarnai perjalannnya, saya pikir tren yang coba dimunculkan oleh KAMMI Kultural masih bisa ditolerir dan bisa dianggap berkontribusi baik terhadap wacana gerakan selama tidak menggugat ranah ideologi. Forum-forum intelektual seperti KAMMI Kultural bahkan sebenarnya adalah wadah yang fair untuk beradu argumen, berdialektika dan saling pukul dengan gagasan. Hal itu penting dibangun dan dirawat sebagai usaha untuk membentuk kedewasaan intelektual kader, sehingga kita terhindar dari sikap sentimental dan reaktif terhadap perbedaan. Perdebatan terkait kedua hal ini (Islam dan kiri) masih bisa kita pandang sebagai sesuatu yang sehat selama memang dibangun diatas tujuan yang baik.

Saya kira, sah-sah saja membaca literatur kiri-progressif selama hal itu berkontribusi baik terhadap pergerakan KAMMI. Pembacaan yang luas dan beragam juga baik selama tidak merubah karakteristik dan identitas yang harusnya dimiliki oleh kader-kader KAMMI. Menyoal pendapat Kakanda Wirawan Sukarwo dalam sebuah tulisan terhadap kader –kader KAMMI yang membaca literatur kiri sebagi kader-kader genit yang kekurangan literatur, saya pikir Kakanda terlalu terburu-buru menyimpulkan. Walau Islam adalah sebuah sistem yang holistik, yang mengatur hidup dan kehiudpan manusia, hal ini tidak perlu menghalangi kita untuk membaca ideologi-ideologi lain. Apalagi praksis pergerakan di KAMMI masih berkutat pada protes jalanan-tulisan-dan aksi-aksi sosial yang pada keadaan tertentu belum membersamai perjuangan riil masyarakat. Kader KAMMI secara umum seolah menjaga jarak terhadap isu-isu yang selama ini dianggap menjadi milik kawan-kawan pergerakan kiri seperti tata ruang kota, akses lahan, sengketa agraria dan advokasi buruh. Belum lagi melihat konsistensi mereka dalam mengawal isu-isu seperti kebebasan, HAM, kesetaraan dan anti-kapitalisme, yang dalam Islam sebenarnya bukan barang baru. Padahal bagaimanapun, isu-isu tersebut juga adalah isu-isu yang diterjuni dan menjadi medan perjuangan Nabi Muhammad ketika membawa Islam sebagai agama yang mebebaskan, baik secara spiritual maupun sosial.

Memang, ide-ide yang biasanya dikawal oleh golongan yang berafiliasi kiri di Indonesia ini (komunis-anarkis-sosialis) sebenarnya sudah ada dalam Islam, namun pengkajiannya belum begitu dalam dilakukan oleh kaum muslim baik perorangan maupun kelompok. Praksis dari perjuangan di ranah-ranah tersebut juga belum terkonstruk dengan baik dan mendetail dibandingkan, katakanlah revolusi dalam komunisme dan sabotase-aksi langsung dalam anarkisme, atau mobilisasi massa buruh dengan perjuangan hak-haknya yang memang menjadi salah satu konsentrasi perjuangan dalam komunisme sehingga isu-isu tersebut lebih dapat dikaji jika kita membaca literatur kiri.

*Bacaan Cinta dan bacaan berat*
Menjelang milenium kedua hingga setelahnya, industri media dengan propaganda yang luar biasa mencoba memposisikan diri sebagai kebutuhan yang sangat penting bagi masyarakat. Berbagai cara dilakukan, mulai dari memenuhi kebutuhan akan berita dan pengetahuan, hingga pengisi waktu luang dan hiburan. Media televisi -kemudian disusul oleh internet- berpengaruh besar dalam “mendakwahkan” tema cinta sebagai salah satu tema yang diusung dalam usaha menghibur masyarakat. Film, lagu bahkan produk iklan tak pernah bisa lepas dari tema cinta, menggeser posisi bacaan sebagai penyedia tema itu sebelum meratanya penggunaan televisi dan internet. Di tengah-tengah pertarungan ide antara Islam dan bukan Islam, muncul semacam kesadaran untuk melawan hegemoni ide-ide sekuler yang dipropagandakan melalui tema cinta ini dengan mengusung tema cinta dengan warna Islam, baik dalam bentuk buku, film, lagu dan produk lain.

Sebenarnya kesadaran untuk menawarkan hiburan Islami ini adalah sebuah pencapaian yang mesti diapresiasi. Bahwa Islam mengatur semua hal dalam hidup manusia termasuk juga perkara hiburan. Namun demikian, perlu juga kesadaran untuk tidak teseret pada arus mainstream dalam dunia hiburan ini, sehingga kemudian -dalam kaitannya dengan tema umum yang kita bahas dalam tulisan ini- keberpihakan kita yang besar pada buku dan bacaan dengan tema-tema lain yang juga penting tetap terjaga. Buku dan film Islami yang mengusung tema cinta dengan balutan menikah muda atau tema hijrah jangan sampai dianggap sebagai jalan dakwah paling utama karena paling ampuh menyerap perhatian kaum muda. Ia hanya satu bagian yang sama pentingnya dengan metode lain yang memegang peranannya masing-masing dalam agenda besar dakwah ini.

Salah paham terhadap bacaan-bacaan kiri yang dibahas di awal juga berlaku bagi ranah pemikiran/filsafat. Filsafat dan pemikiran kritis terlanjur digeneralisasi sebagai penyebab sesat dan nyelenehnya seseorang. Tak jarang bahkan pemahaman seperti ini berkembang di kalangan mahasiswa yang tergabung dalam KAMMI. Hal ini diperparah dengan kecendrungan untuk menelan mentah-mentah asumsi umum tersebut tanpa mencoba mengklarifikasi dan objektif dalam menilai filsafat sebagai ilmu. Dakwah harusnya adalah sebuah verba dengan dimensi yang luas, tak terbatas pada bahasan ibadah ritual dan mobilisasi opini urgensi menikah muda. Yang dapat kita lihat hari ini adalah, kader disibukkan dengan romantisme menikah muda dan kehidupan percintaan paska pernikahan, sedangkan dinamika masyarakat berkembang bebas menunggu untuk diakrabi oleh kader-kader KAMMI.

Kader KAMMI memandang mereka yang berkubang dengan filsafat sebagai orang-orang tanpa harapan yang suka mengutak-atik dogma agama sambil kurang ajar mempertanyakannya. Saya jadi bertanya, bagaimana kelompok mahasiswa yang terbiasa mempertanyakan segala hal dalam kaitannya dengan filsafat dan pemikiran kritis memandang kader-kader KAMMI? (Kasiyanto Bin Iskandar, Ketua KAMMI Komisariat Hang Nadim Batam)

Pin It on Pinterest