Fasilitator : Robert Edy Sudarwan
Notulen : Titis Nur Ilmi, S.Pd
HI dilaksanakan pada : Minggu, 14 Mei 2017

Sore selepas hujan reda kali ini kami yang terhimpun dalam Korps Instruktur Daerah KAMMI Jember meluangkan waktu sejenak mencoba menggali lebih dalam makna Instruktur, dengan tidak menyia-nyiakan kehadiran bang Robert Edy Sudarwan yang sejak Sabtu, 13 Mei 2017 hadir di Kota Jember untuk mengisi Daurah Marhalah II PD Jember di Bondowoso. Setelah agenda penutupan DM II yang di isi dengan talkshow tentang Pemuda dan Membangun Indonesia, kami memulai melaksanakan HI dengan hikmat bersama teman para instruktur yang berkesempatan hadir di halaqoh perdana kami.

Hal pertama kali di ungkapkan oleh fasilitator adalah Mengisi Dauroh tidak hanya tentang menyampaikan konten materi tapi, juga bagaimana cara menyampaikan materi tersebut. Prioritas penting bagi instruktur adalah untuk mengetahui tujuan dauroh, sedangkan materi adalah variabel untuk menghantar peserta daurah untuk sampai pada tujuan dari daurah. Keberhasilan dari setiap dauroh sebenarnya diharapkan dapat membentuk kesadaran, kesadaran itu akan tumbuh membentuk prilaku dan sikap mental. Sehingga dapat dikatakan daurah di KAMMI adalah daurah yang kompleks, maka tidak cukup hanya dengan mengandalkan penyampaian konten materi. Apalagi jika instruktur hanya berbekal googling materi dari blog atau website, semua akan berakhir kurang optimal. Dengan demikian proses daurah yang utama adalah proses dari seluruh rangkaian daurah, dari sejak kader berangkat ke lokasi daurah hingga kader pulang, adalah bagian dari proses daurah itu sendiri.

Bang Robert juga menyampaikan bahwa kesadaran adalah output yang harus bisa dicapai dalam dauroh karena kesadaran menjadi landasan seseorang dalam bergerak dan tidak akan sadar seseorang kecuali orang yang paham. Karena nya dalam membawakan materi dibutuhkan tiga bekal bagi para instruktur:

1. Memahami Ideologi dan Falsafah Dasar Nilai-nilai ke-KAMMI-an
Memahami ideologi adalah hal yang paling penting karena dengan memahami ideologi maka diharapkan seorang instruktur dapat menggiring pola pikir peserta dauroh untuk membentuk pehamanan sesuai dengan ideologi KAMMI. Memahami ideologi juga menjadi bekal yang penting bagi instruktur untuk memahamkan peserta terkait hal yang melenceng tentang KAMMI, nilai-nilai di KAMMI adalah nilai yang universal. Bagaimana instruktur dapat memahami dengan cermat filosofi gerakan dan menjadi transformer yang baik bagi peserta daurah. Lalu anasir KAMMI tentang Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika, hal demikian harus jelas dan tepat dalam merangkai puzzel-puzzel pengetahuan, hingga terbangun kepahaman dengan baik.

2. Metodologi
Di awal sudah dijelaskan bahwa membawakan materi bukan hanya ditekankan pada konten, tapi juga cara penyampaian. Menggiring pola pikir peserta dan menggali pengetahuan mereka adalah cara yang dapat dikembangkan metodologinya sesuai karakter masing-masing instruktur. Sejatinya seorang instruktur materi itu bukan pemberi materi tetapi lebih ditekankan sebagai fasilitator dalam menggali pengetahuan peserta terkait materi yang dibawanya. Lalu instruktur juga mampu membawa pada titik kesepakatan bersama yang tentunya kesepakatan itu adalah inti dari tujuan materi tersebut. Proses penggiringan ini berjalan dengan natural dan sistemik, tidak dapat parsial dan terputus antara hal satu dan lainnya.

3. Kapasitas
Meskipun instruktur materi hanya sebagai fasilitator bukan berarti instruktur materi tidak perlu memahami materi yang dibawanya. Justru kapasitas instruktur sangat dibutuhkan. Kapasitas baik dari segi keilmuan maupun menajemen forum nantinya akan mendukung instruktur materi dalam menciptakan dinamisasi dauroh. Kapasitas instruktur juga menjadi pengukur ketercapaian pemahaman peserta terkait materi.

Bang Robert juga mengatakan bahwa menjadi instruktur dauroh juga tidak hanya membawakan materi. Ada macam-macam perangkat lainnya. Sebelum menjadi instruktur materi, biasanya seorang instruktur akan diberikan tugas sebagai observer. Tugas sebagai observer ini bertujuan agar seorang instruktur dapat mengamati terlebih dahulu. Mengamati dan kemudian mengevaluasi hal-hal yang dilakukan di dalam forum baik oleh peserta atau instruktur materi. Belajar dengan mengamati, maka saat menjadi instruktur materi ia akan siap menerapkan metodologi yang dianggap tepat dan sesuai apa yang telah diamati.

Tidak kalah penting keberadaannya dalam suatu dauroh adalah Ustadz dan Ustadzah dauroh. Jika instruktur yang lain bertugas untuk membangun pola pikir dan kesadaran peserta, maka Ustadz dan Ustadzah dauroh bertugas mendorong sisi spiritual agar pola pikir dan kesadaran itu benar-benar muncul dari diri masing-masing peserta sesuai keridhoan dan pertolongan Allah Subhanahu Wata’ala. Tidak hanya sekedar meng-kontrol amal yaumi namun juga mendo’akan dan memohon hidayah pada Yang Maha Kuasa.

Kondisi dan latar belakang peserta dauroh juga perlu untuk diketahui sebelum menyelenggarakan dauroh karena peserta dauroh adalah mahasiswa yang heterogen. Ada tiga jenis calon kader KAMMI. Pertama, mereka berasal dari kalangan yang sudah tidak asing dengan dunia dakwah. Mereka yang di jenjang pendidikan sebelumnya aktif dalam kegiatan kerohanian islam, saat mahasiswa memilih KAMMI atau tepatnya diarahkan untuk masuk KAMMI. Kader-kader ini biasa disebut kader titipan. Kedua, mereka yang masih mencari jatidiri. Beberapa atau sebagian pergerakan mahasiswa dimasuki termasuk KAMMI. Ketiga, calon kader yang masih mau belajar agama, misalnya ingin belajar sholat. Berdasarkan latar belakang yang berbeda tersebut maka dibutuhkan cara berbeda dalam pengelolaan dauroh. Pada bagian ini ilmu assessment menjadi penting untuk dijadikan alat bantu, agar daurah menjadi tepat guna dan tepat sesaran.

Menyamakan frekuensi peserta dalam dauroh dilakukan agar tidak terjadi miskomunikasi. Setiap pengetahuan seseorang berbeda. Menyamakan frekuensi agar tebentuk frame yang sama sehingga tujuan dauroh dapat tercapai. Peserta bukan seperti gelas kosong yang harus diisi, tapi bagaimana instruktur menggali pengetahuan peserta agar antar peserta dapat saling mentransfer kapasitas pengetahuannya sehingga dalam forum tersebut terbangun pemikiran yang menjadi pola pikir bersama. Ini tugas instruktur untuk me-menejemen forum.

Pada sesi ini fasilitator yang juga Kandidat Doktor Penelitian dan Evaluasi Pendidikan ini memandu peserta untu melakukan praktek micro teaching, Me managemen forum termasuk di dalamnya men-setting forum dan penguasaan kepesertaan. Setting/skenario forum berbeda dapat membentuk pola pikir yang berbeda pula. Contoh seperti berikut ini langsung di praktekkan dengan 3 peserta HI:

Pada peserta pertama, ia cenderung menyeting Forum dengan komunikasi satu arah. Instruktur cenderung menjadi pusat pemberi informasi ” Instructor Center “, pola pikir yang terbangun dari cara seperti ini cenderung pada pola pikir instruktur materi saja. Maka materi hanya akan diterima sebagai konten dan peserta bisa jadi hanya sebagian kecil yang dapat mengikuti alur pemikiran tersebut oleh karena tidak semua orang berpikir dari sudut pandang yang sama.

Di microteaching ke dua, peserta cenderung melakukan komunikasi dua arah, dengan membangun pertanyaan dan dialog dengan peserta. Dengan demikian kapasitas pengetahuan peserta dari berbagai sudut pandang dapat dilihat. Komunikasi yang dibangun adalah komunikasi dua arah dengan membangun interaksi dengan peserta. Setelah berbagai sudut pandang didapatkan maka dilanjutkan dengan mengerucutan sudut pandang untuk menyamakan frame.

Penguasaan kepesertaan juga harus di manejemen dengan baik, apalagi jika menghadapi peserta yang memiliki kecenderungan untuk membuat forum menjadi tidak kondusif. Seorang instruktur harus mampu mengarahkan peserta untuk tetap mendapatkan poin dari goal materi. Jika hal ini tidak tercapai maka waktu tidak boleh menjadi pembatas dalam penyelenggaraan dauroh, dalam arti jika waktu pada rundown awalnya adalah dua jam namun dalam dua jam belum juga tercapai maka materi harus tetap sampai goal dengan menambah durasi waktu. Oleh karena itu dauroh ini bukan “piknik” yang semua jadwal dan destinasi tersusun dengan baik, tapi daurah ini adalah “backpacker”, petualangan yang kita sudah pancang tujuan, namun diperjalanan kita tidak tau bagaimana dinamika perjalanan yang harus dihadapi.

Di akhir fasilitator Halaqoh yang lahir dari Komisariat Raden Intan Lampung mengatakan bahwa mengelola dauroh adalah tugas instruktur. Sedangkan tugas instruktur adalah bagian dari menjalankan tugas pada proses kaderisasi KAMMI, agar lebih kokoh lagi maka instruktur memiliki tanggung jawab seumur hidup, berbeda dengan status anggota biasa yang hanya sampai pada usia 30 tahun. Sehingga setiap personal instruktur yang kembali ke daerah asalnya dapat tetap mengabdikan diri di daerahnya dalam dunia keinstrukturan. Membangun keinstrukturan ini diperlukan keseriusan baik dalam mengelola dauroh maupun meng-upgrade kapasitas instruktur sendiri. Semangat untuk melaksanakan HI, belajar dari mereka yang sudah mumpuni adalah hal yang perlu dan penting dilakukan. Hal tersebut agar memperkaya kepahaman. Orang itu ada didalam pikiran dan hatinya. Pikiran tempat untuk membentuk kepahaman, kepahaman akan membentuk kesadaran, kesadaranlah yang akan menghidupkan gerakan.

*Reportase Halaqoh Instruktur KID Jember

Pin It on Pinterest